MENCINTAI ORANG MISKIN

FIQIH HADITS (1) : MENCINTAI ORANG- ORANG MISKIN DAN DEKAT DENGAN MEREKA Wasiat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tujukan untuk Abu Dzar ini, pada hakikatnya adalah wasiat untuk ummat Islam secara umum. Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Abu Dzar agar mencintai orang- orang miskin dan dekat dengan mereka. Kita sebagai ummat Islam hendaknya menyadari bahwa nasihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tertuju juga kepada kita semua. Orang-orang miskin yang dimaksud, adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, tidak punya kepandaian untuk mencukupi kebutuhannya, dan mereka tidak mau meminta-minta
kepada manusia. Pengertian ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : َﺲْﻴَﻟ ُﻦْﻴِﻜْﺴِﻤْﻟﺍ ﺍَﺬَﻬِﺑ ِﻑﺍَّﻮَّﻄﻟﺍ ﻱِﺬَّﻟﺍ ُﻑْﻮُﻄَﻳ ﻰَﻠَﻋ ،ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﻩُّﺩُﺮَﺘَﻓ ُﺔَﻤْﻘُّﻠﻟﺍ ِﻥﺎَﺘَﻤْﻘُّﻠﻟﺍَﻭ ُﺓَﺮْﻤَّﺘﻟﺍَﻭ .ِﻥﺎَﺗَﺮْﻤَّﺘﻟﺍَﻭ ﺍْﻮُﻟﺎَﻗ : ﺎَﻤَﻓ ُﻦْﻴِﻜْﺴِﻤْﻟﺍ ﺎَﻳ َﻝْﻮُﺳَﺭ ؟ِﻪﻠﻟﺍ :َﻝﺎَﻗ ْﻱِﺬَّﻟﺍ َﻻ ُﺪِﺠَﻳ ﻰًﻨِﻏ ِﻪْﻴِﻨْﻐُﻳ َﻻَﻭ ُﻦَﻄْﻔُﻳ ُﻪَﻟ َﻕَّﺪَﺼَﺘُﻴَﻓ ،ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻻَﻭ ُﻝَﺄْﺴَﻳ
ﺎًﺌْﻴَﺷ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ . “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta
kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu- dua butir kurma.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab,”Mereka
ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat), dan mereka tidak mau meminta-minta
sesuatu pun kepada orang lain.”[1] Islam menganjurkan umatnya berlaku tawadhu` terhadap orang-orang miskin, duduk bersama mereka, menolong mereka, serta bersabar bersama mereka. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul bersama orang-orang miskin, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak berbicara dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mereka enggan duduk bersama dengan orang-orang miskin itu, lalu mereka
menyuruh beliau agar mengusir orang- orang fakir dan miskin yang berada bersama beliau. Maka masuklah dalam hati beliau keinginan untuk mengusir mereka, dan ini terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Lalu turunlah ayat: “Janganlah engkau mengusir orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, mereka
mengharapkan
wajah-Nya”. [al- An’âm/6:52].[2] Mencintai orang- orang miskin dan dekat dengan mereka, yaitu dengan membantu dan menolong mereka, bukan sekedar dekat dengan mereka. Apa yang ada pada kita, kita berikan kepada mereka karena kita akan diberikan kemudahan oleh Allah Ta’ala dalam setiap urusan, dihilangkan kesusahan pada hari Kiamat, dan memperoleh ganjaran
yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ْﻦَﻣ َﺲَّﻔَﻧ ْﻦَﻋ ٍﻦِﻣْﺆُﻣ ًﺔَﺑْﺮُﻛ ْﻦِﻣ ِﺏَﺮُﻛ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﺲَّﻔَﻧ ُﻪﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ ًﺔَﺑْﺮُﻛ ْﻦِﻣ ِﺏَﺮُﻛ ِﻡْﻮَﻳ ،ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ْﻦَﻣَﻭ َﺮَّﺴَﻳ ﻰَﻠَﻋ ٍﺮِﺴْﻌُﻣ َﺮَّﺴَﻳ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻲِﻓ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ
ِﺓَﺮِﺧﻵْﺍَﻭ…
“Barangsiapa
menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan
darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan
kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat… ” [3] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: ﻰِﻋﺎَّﺴﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﺔَﻠَﻣْﺭَﻷْﺍ ِﻦْﻴِﻜْﺴِﻤْﻟﺍَﻭ ِﺪِﻫﺎَﺠُﻤْﻟﺎَﻛ ْﻲِﻓ ِﻞْﻴِﺒَﺳ ِﻪﻠﻟﺍ ُﻪُﺒِﺴْﺣَﺃَﻭ– :-َﻝﺎَﻗ ِﻢِﺋﺎَﻘْﻟﺎَﻛَﻭ َﻻ ُﺮُﺘْﻔَﻳ
ُﺮِﻄْﻔُﻳ َﻻ ِﻢِﺋﺎَّﺼﻟﺎَﻛَﻭ . “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang- orang miskin bagaikan
orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus”.[4] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkumpul bersama orang-orang miskin, sampai-sampai beliau berdo’a kepada Allah agar dihidupkan dengan tawadhu’, akan tetapi beliau mengucapkannya
dengan kata “miskin”. َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ ْﻲِﻨِﻴْﺣَﺃ ﺎًﻨْﻴِﻜْﺴِﻣ ْﻲِﻨْﺘِﻣَﺃَﻭ ﺎًﻨْﻴِﻜْﺴِﻣ ْﻲِﻧْﺮُﺸْﺣﺍَﻭ ْﻲِﻓ ِﺓَﺮْﻣُﺯ
ِﻦْﻴِﻛﺎَﺴَﻤْﻟﺍ.
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin”. [5] Ini adalah doa dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Allah Ta’ala memberikan sifat tawadhu` dan rendah hati, serta agar tidak termasuk orang- orang yang sombong lagi zhalim maupun orang-orang kaya yang melampaui batas. Makna hadits ini bukanlah meminta agar beliau menjadi orang miskin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah, bahwa kata “miskin” dalam hadits di atas adalah tawadhu [6]. Sebab, di dalam hadits
yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kefakiran.[7] Beliau berdoa seperti ini, karena beliau mengetahui bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Tenggang waktu antara masuknya orang-orang miskin ke dalam surga sebelum orang kaya dari kalangan kaum Muslimin adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُﻞُﺧْﺪَﻳ ُﺀﺍَﺮَﻘُﻓ َﻦْﻴِﻤِﻠْﺴُﻤْﻟﺍ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻞْﺒَﻗ ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﻨْﻏَﺃ ِﻒْﺼِﻨِﺑ ٍﻡْﻮَﻳ َﻮُﻫَﻭ ُﺲْﻤَﺧ ِﺔَﺋﺎِﻣ
ٍﻡﺎَﻋ.
“Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun”. [8] Orang–orang miskin yang masuk surga ini, adalah mereka yang taat kepada Allah, mentauhidkan-Nya
dan menjauhi perbuatan syirik, menjalankan Sunnah dan menjauhi perbuatan bid’ah, menjalankan
perintah-perintah
Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab terlambatnya orang-orang kaya memasuki surga selama lima ratus tahun, adalah karena semua harta mereka akan dihitung dan dipertanggungjawabkan
di hadapan Allah Ta’ala. Dalam hadits yang lain
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a agar mencintai orang- orang miskin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ ْﻲِّﻧِﺇ َﻚُﻟَﺄْﺳَﺃ َﻞْﻌِﻓ ،ِﺕﺍَﺮْﻴَﺨْﻟﺍ َﻙْﺮَﺗَﻭ ،ِﺕﺍَﺮَﻜْﻨُﻤْﻟﺍ َّﺐُﺣَﻭ ،ِﻦْﻴِﻛﺎَﺴَﻤْﻟﺍ ْﻥَﺃَﻭ َﺮِﻔْﻐَﺗ ْﻲِﻟ ،ْﻲِﻨَﻤَﺣْﺮَﺗَﻭ ﺍََﺫِﺇَﻭ َﺕْﺩَﺭَﺃ َﺔَﻨْﺘِﻓ ٍﻡْﻮَﻗ ْﻲِﻨَّﻓَﻮَﺘَﻓ َﺮْﻴََﻏ ،ٍﻥْﻮُﺘْﻔَﻣ َﻚُﻟَﺄْﺳَﺃَﻭ ،َﻚَّﺒُﺣ َّﺐُﺣَﻭ ْﻦَﻣ ،َﻚُّﺒِﺤُﻳ َّﺐُﺣَﻭ ٍﻞَﻤَﻋ
َﻚِّﺒُﺣ ﻰَﻟِﺇ ْﻲِﻨُﺑِّﺮَﻘُﻳ . “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan
perbuatan-perbuatan
baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu”. [9] Selain itu, dengan menolong orang- orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ْﻞَﻫ َﻥْﻭُﺮَﺼْﻨُﺗ َﻥْﻮُﻗَﺯْﺮُﺗَﻭ َّﻻِﺇ
ْﻢُﻜِﺋﺎَﻔَﻌُﻀِﺑ.
“Kalian hanyalah mendapat
pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”.[10] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: ﺎَﻤَّﻧِﺇ ُﺮُﺼْﻨَﻳ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻩَﺬَﻫ َﺔَّﻣُﻷْﺍ :ﺎَﻬِﻔْﻴِﻌَﻀِﺑ ،ْﻢِﻬِﺗَﻮْﻋَﺪِﺑ ،ْﻢِﻬِﺗَﻼَﺻَﻭ
ْﻢِﻬِﺻَﻼْﺧِﺇَﻭ.
“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang- orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka”.[11] PENUTUP Mudah-mudahan
tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca, dan wasiat Rasulullah ini dapat kita laksanakan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Mudah- mudahan shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada kelurga dan para sahabat beliau. Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s